Skip to main content

TERGULINGNYA TRUK PEMBAWA BONEK.


               Foto ini merupakan foto terbaik World Press Photo 1995 dari kategori spot news, sebuah penghargaan bergengsi dan membanggakan ketika itu. Penghargaan yang bergengsi bagi kalangan wartawan foto sedunia. 
               
Foto ini merupakan foto dari wartawan Jawa Pos, Sholihuddin. Dan hingga kini masih tersimpan di kantor redaksi Jawa Pos, di Graha Pena Surabaya. ”Saat memotret itu, saya terjengkang ditabrak suporter yang loncat. Posisi saya dekat dengan truk. Hanya 10 meter. Polisi yang bersiaga langsung membantu menyelamatkan suporter yang terjepit,” ucapnya. 
Foto ini diambil pada 17 Mei 1995, usai pertandingan antara PSIS Semarang melawan Persebaya di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya. Tim kesayangannya menang, para Bonek itu kemudian bersorak sambil menyanyikan yel-yel Persebaya.

Lazimnya setelah pertandingan, luapan supporter dari stadion akan memenuhi jalanan dan membuat macet. Untuk itulah Kodam V Brawijaya dan Polda Jatim telah menyiapkan truk untuk mengangkut mereka.

Diberi tumpangan gratis, tentu saja mereka langsung menyerbu dan berebut naik truk. Truk pertama berangkat. Giliran truk kedua, truk milik Kodam itu dinaiki lebih banyak orang.  Bahkan sampai desak-desakan di dalam.

Tingkah suporter itu membuat keadaan truk seperti orang mabuk. Oleng kanan, oleng kiri. Sang sopir, Prada Munib, sadar diri. Truk dijalankannya dengan pelan. Mengetahui akan jatuh, Bonek-bonek itu malah semakin bersorak.

Truk pun maju dengan hanya ban di sebelah kanan saja. Eeeh... eeeh... byuarrr... ! Truk pun terguling. Puluhan suporter yang di atas truk itupun meloncat menyelamatkan diri.

Sholihuddin sudah memprediksi momen ini. Temaram senja yang semakin gelap membuatnya memutuskan memakai blitz. Beberapa detik sebelum truk ambruk, Pret, dengan sekali jepretan fotopun jadi.

Sesampainya di kantor, kemudian dicetak. Alangkah kagetnya ketika mengetahui hasil foto yang menakjubkan itu. Pemred Jawa Pos, Solihin Hidayat, kemudian memintanya untuk memasang di halaman satu. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

KOPASSUS DAN LORENG DARAH MENGALIR.

Dalam parade dan defile pasukan dalam HUT ABRI (TNI) 5 Oktober 1964, untuk pertama kalinya Menparkoad-RPKAD (sekarang Kopassus) tampil resmi dan memperkenalkan didepan publik dengan menggunakan seragam yang dirancang dengan corak khusus yang kemudian dikenal dengan loreng Darah Mengalir. - Ketika itu prajurit-prajurit Menparkoad tampil menggunakan topi laken loreng dengan corak yang sama dengan seragamnya. Namun topi laken ini urung diberlakukan sebagai bagian dari identitas resmi pasukan ini yang sudah kadung lekat dengan Baret Merah. - Topi laken loreng ini sempat popular ketika digunakan oleh prajurit-prajurit satuan ini ketika terlibat penugasan operasi penumpasan PGRS/ Paraku serta penugasan di Timor Timur pada masa masa awal integrase. - Selain itu, prajurit-prajurit satuan ini pernah juga mengenakan kombinasi baju loreng (Darah Mengalir) dengan celana hijau, dan ketika itu sempat menjadi trend, tidak hanya di lingkungan Baret Merah namun juga merambah di satuan-satuan l...

SAT GULTOR 81 KOPASSUS

S atuan 81/Penanggulangan Teror  atau disingkat  Sat-81/Gultor  adalah satuan di  Kopassus  yang setingkat dengan Grup dan merupakan Prajurit terbaik dari seluruh Prajurit TNI, bermarkas di  Cijantung ,  Jakarta Timur . Kekuatan dari satuan ini tidak dipublikasikan secara umum mengenai jumlah personel maupun jenis persenjataannya yang dimilikinya, semua itu dirahasiakan Dansat-81/Kopassus saat ini dijabat oleh Kolonel Inf Tri Budi Utomo. Mengantisipasi maraknya tindakan pembajakan pesawat terbang era tahun 1970/80-an, Kepala  Badan Intelijen Strategis  (BAIS)  ABRI  Letjen TNI LB Moerdani menetapkan lahirnya sebuah kesatuan baru setingkat detasemen di lingkungan Kopassandha. Pada  30 Juni   1982 , muncullah  Detasemen 81  (Den-81) Kopassandha dengan komandan pertama  Mayor  Inf.  Luhut Binsar Panjaitan  dengan wakil  Kapten  Inf.  Prabowo Subianto . Kedua perwira ter...

Badan Intelijen Strategis (BAIS)

Badan Intelijen Strategis  (disingkat  BAIS TNI ) adalah  organisasi  yang khusus menangani  intelijen   kemiliteran  dan berada di bawah komando Markas Besar  Tentara Nasional Indonesia . [1]  BAIS bertugas untuk menyuplai analisis-analisis intelijen dan strategis yang aktual maupun perkiraan ke depan -biasa disebut jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang- kepada  Panglima TNI  dan  Departemen Pertahanan . Markas BAIS terletak di kawasan  Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan . BAIS berawal dari  Pusat Psikologi Angkatan Darat  (disingkat  PSiAD ) milik Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) untuk mengimbangi  Biro Pusat Intelijen  (BPI) di bawah pimpinan  Subandrio , yang banyak menyerap  PKI . Tahun  1986  untuk menjawab tantangan keadaan BIA diubah menjadi  BAIS . Perubahan ini berdampak kepada restrukturisasi organisasi yang harus mampu mencakup dan me...