Pada tahun 1954, telah dilaksanakan ‘Kursus Frog Man’ di Dinas Ranjau KDMS, yang diprakarsai oleh Kapten Dch. Iskak dan menghasilkan empat orang manusia katak dengan kemampuan teknik peperangan laut khusus yaitu selam tempur, UDT, infiltrasi laut dan pengamatan pantai.
-
Hingga menjelang digelarnya Operasi Trikora, pada akhir Januari 1962, Mabes AL membentuk instruktur grup, dengan memanggil personil TNI AL dari Korps Jasmani, berpangkat pama hingga tamtama sebanyak 17 orang.
-
Pada awal Februari, instruktur grup tersebut mulai melakukan latihan fisik, yang mengambil tempat di Hotel Thamrin Jakarta. Puncaknya, pada 31 Maret 1962, di halaman kolam renang Senayan Jakarta, Panglima AL, Laksamana Madya RE. Martadinata, meresmikan berdirinya satuan Pasukan Katak AL, yang kemudian dikenal dengan Kopaska.
-
Mengingat pasukan ini harus siap pada Juli 1962, Dansat Kopaska memutuskan untuk mengambil personel dari satuan yang memiliki kualifikasi komando, dan yang yang paling memungkinkan saat itu adalah prajurit-prajurit Kipam(Yontaifib).
-
Namun permintaan tersebut ditolak Mabes KKO (Marinir), dengan alasan bahwa pasukan Kipam akan menjalankan operasi sendiri, untuk mendukung operasi amfibi pada Operasi Trikora.
-
Kemudian atas perintah Danjen RPKAD (Kopassus), Mayjen Pahardimulyo, dikirim 75 personel RPKAD berpangkat prajurit hingga mayor. Setelah tes, tersaring 22 personel. Jumlah ini ditambah dari Kodam Jaya sebanyak tiga orang.
-
Setelah menempuh latihan di Pulau Edam–Kepulauan Seribu, selama dua bulan, sekitar awal Juni 1962, sebanyak 21 personel RPKAD menyatakan tidak sanggup dan mengundurkan diri. Mereka juga minta dikembalikan ke Cijantung.
-
Namun, atas perintah Komandan Kol. OP. Koesno, latihan terus berlanjut, hingga keberangkatan ke daerah Operasi Trikora.
-
Sehingga, bisa dikatakan bahwa Kopaska saat itu mendidik pasukan hingga tiga angkatan yaitu : angkatan I adalah calon korps pelatih pasukan katak. Angkatan II sebagai anggota unit tempur yang diambil dari anggota ALRI. Dan Angkatan III adalah tiga peleton anggota RPKAD yang dilatih menjadi ‘frog man’.
-
Hingga menjelang digelarnya Operasi Trikora, pada akhir Januari 1962, Mabes AL membentuk instruktur grup, dengan memanggil personil TNI AL dari Korps Jasmani, berpangkat pama hingga tamtama sebanyak 17 orang.
-
Pada awal Februari, instruktur grup tersebut mulai melakukan latihan fisik, yang mengambil tempat di Hotel Thamrin Jakarta. Puncaknya, pada 31 Maret 1962, di halaman kolam renang Senayan Jakarta, Panglima AL, Laksamana Madya RE. Martadinata, meresmikan berdirinya satuan Pasukan Katak AL, yang kemudian dikenal dengan Kopaska.
-
Mengingat pasukan ini harus siap pada Juli 1962, Dansat Kopaska memutuskan untuk mengambil personel dari satuan yang memiliki kualifikasi komando, dan yang yang paling memungkinkan saat itu adalah prajurit-prajurit Kipam(Yontaifib).
-
Namun permintaan tersebut ditolak Mabes KKO (Marinir), dengan alasan bahwa pasukan Kipam akan menjalankan operasi sendiri, untuk mendukung operasi amfibi pada Operasi Trikora.
-
Kemudian atas perintah Danjen RPKAD (Kopassus), Mayjen Pahardimulyo, dikirim 75 personel RPKAD berpangkat prajurit hingga mayor. Setelah tes, tersaring 22 personel. Jumlah ini ditambah dari Kodam Jaya sebanyak tiga orang.
-
Setelah menempuh latihan di Pulau Edam–Kepulauan Seribu, selama dua bulan, sekitar awal Juni 1962, sebanyak 21 personel RPKAD menyatakan tidak sanggup dan mengundurkan diri. Mereka juga minta dikembalikan ke Cijantung.
-
Namun, atas perintah Komandan Kol. OP. Koesno, latihan terus berlanjut, hingga keberangkatan ke daerah Operasi Trikora.
-
Sehingga, bisa dikatakan bahwa Kopaska saat itu mendidik pasukan hingga tiga angkatan yaitu : angkatan I adalah calon korps pelatih pasukan katak. Angkatan II sebagai anggota unit tempur yang diambil dari anggota ALRI. Dan Angkatan III adalah tiga peleton anggota RPKAD yang dilatih menjadi ‘frog man’.
Paska perjanjian damai antara Indonesia dan Belanda, maka berakhir pula gelaran Operasi Trikora tersebut. Untuk selanjutnya, 21 personel dari RPKAD dikembalikan ke Cijantung, sedangkan tiga dari Kodam Jaya disalurkan ke Kodikal, untuk kemudian dididik jadi calon tamtama (Catam) TNI AL. -
Menjelang digelarnya Operasi Seroja, Kopaska dan Kopassus yang tergabung dalam 1 detasemen, ditugaskan untuk melakukan klandestin di Timor Timur yang dimulai pada tahun 1973. -
Di masa Orba, Kopaska juga sempat didaulat untuk merintis sebuah pasukan sejenis untuk Malaysia. Kelak pasukan ini bernama Pasukan Khas Laut (PASKAL TLDM). -
Barangkali karena keterikatan sejarah juga, pada awal tahun 2000-an, antara Kopaska dan Kopassus, sempat muncul sebutan di masyarakat bahwa Kopassusnya AL adalah Kopaska, dan Kopaskanya AD adalah Kopassus. -
Nama Kopaska bisa jadi tak begitu dikenal karena minimnya publikasi dan penugasan yang bersifat rahasia. Tetapi kiprah dan peranan mereka sebenarnya cukup nyata.
Menjelang digelarnya Operasi Seroja, Kopaska dan Kopassus yang tergabung dalam 1 detasemen, ditugaskan untuk melakukan klandestin di Timor Timur yang dimulai pada tahun 1973. -
Di masa Orba, Kopaska juga sempat didaulat untuk merintis sebuah pasukan sejenis untuk Malaysia. Kelak pasukan ini bernama Pasukan Khas Laut (PASKAL TLDM). -
Barangkali karena keterikatan sejarah juga, pada awal tahun 2000-an, antara Kopaska dan Kopassus, sempat muncul sebutan di masyarakat bahwa Kopassusnya AL adalah Kopaska, dan Kopaskanya AD adalah Kopassus. -
Nama Kopaska bisa jadi tak begitu dikenal karena minimnya publikasi dan penugasan yang bersifat rahasia. Tetapi kiprah dan peranan mereka sebenarnya cukup nyata.
Artikel : buku 50 Tahun Kopaska, Hantu Laut KKo Marinir, Inside Kopassus, Jakartagreater.com

Comments
Post a Comment